Rihlah UINSA Student Forum
Pada tanggal 10 Maret 2018, tepatnya di hari Sabtu sekitar pukul
08.00 saya, Emi, Arif, Yusuf berangkat ke kota Kediri, Jawa Timur. Lebih
tepatnya, kami berencana mengunjungi rumahnya Arif. Kira-kira kami membutuhkan
waktu 3 jam untuk sampai di Kota Kediri. Fyi, list perjalanan
kami gak cuma mampir kerumah doang, kami mampir ke gunung yang sempat meletus
di tahun 2014, yaps Gunung Kelud. Setibanya disana,
saya merasakan sejuknya udara, melihat pemandangan yang indah, mencium bau
duren everywhere, meskipun sedikit panas namun itu gak
menghalangi kami buat explore lebih jauh. Nah, untuk
tiket masuknya dikenakan biaya Rp. 11.500,- Untuk medannya sendiri hanya
jalanan yang naik turun, worth it lah buat kalian yang
pingin diet. Saat itu pengunjungnya gak begitu ramai, oh ya sebagai
generasi Millenials gak mungkin lupa buat hunting foto,
spotnya lumayan bagus sih, kami bisa melihat bukit-bukit kecil dari atas, asap
belerang, indah banget dah, Kelud dengan pesonanya ini ternyata masih ada saja
manusia yang tidak peduli dengan alam, setelah kami amati jalanan sekitar,
banyak sampah yang berserahkan, coretan di jalan, dan di dinding.
Waktu menunjukkan pukul 16.00, perjalanan kami lanjutkan ke
Monumen Simpang Lima Gumul. Disana kami akan bertemu dengan kolega lainnya,
Ocid dan Mamen. Di tengah perjalanan, kami terjebak oleh banjir setinggi betis,
macet sepanjang jalan dan MasyaAllah,
ada pelangi di langit sisi kanan kami. Jalan terus sampai kami tiba di
lokasi. Sesampainya disana, saya langsung excited,
kenapa? Pertama karena saya belum pernah kesini, kedua bangunannya mirip
dengan Arc de Triomphe yang berada di
Paris. Saking excitednya, saya
bergegas jalan lurus aja keluar dari parkiran, sampai temen saya Emi berkata
“Kamu mau kemana? Lewat sini loh” dia menunjuk ke ruangan jalan bawah tanah
yang terhubung langsung dengan Simpang Lima Gumul. Wah, makin girang saya, “wah
ada ruang bawah tanahnya, kayak di luar negeri, keren-keren.” Emi said, “dia bukan teman saya.” Fyi guys, didalam ruang bawah tanahnya
bentuknya seperti lorong kemudian ada foto-foto acara yang diadakan di Kediri
contohnya, Larung Sesaji Gunung Kelud, festival adat di Gumul Kediri, dan masih
banyak lagi. Akhirnya, kami bertemu dengan Ocid dan Mamen. Kemudian, kami
ber-enam mengabadikan momen dengan foto sepuasnya.
Keesokan harinya, Arif mengajak kami jalan-jalan ke sawah.
Sepanjang perjalanan, Kediri berhasil bikin saya betah di sini, karena
suasananya yang adem ayem, gak macet, gak bikin penat. Ohya nih, kami sempat melewati rumah warga desa, keramahan dan
murah senyum yang bisa saya gambarkan untuk warga disana. Dari sini saya
belajar tentang menyapa orang duluan yang kita tidak kenal itu baik loh,
kesederhanaan juga saya dapatkan dari keluarganya Arif, aware dengan lingkungan sekitar, membantu orang tua, dan masih
banyak hal postif lainnya.
Siang hari, kami berencana berkunjung kerumah Rahma. Salah satu
teman kami di USF. Kami pun bergegas dan beberes perlengkapan. Kami berangkat
pukul 10.00, sesampainya disana kami makan bersama. Rumah Rahma dipenuhi dengan
berbagai tanaman buah. Terbesit di pikiran saya, bagaimana jika saya punya
rumah di desa, wah pasti menyenangkan. Setelah sholat dhuhur berjama’ah, kami
pamit pulang menuju Kota Pahlawan.
Pengalaman cerita yang dapat saya ambil, tidak semua yang kamu
lihat itu sesuai dengan prasangkamu, kamu harus benar-benar lihat secara
langsung. Terimakasih untuk Arif dan Rahma atas pelajaran hidupnya yang membuat
saya semangat menjadi manusia yang lebih baik lagi. Thanks to Emi, Yusuf,
Mamen, dan Ocid yang sudah menyempatkan waktunya juga. Next trip, kita kemana lagi guys ?
Masya Allah,
BalasHapusBagus tulisan kamu. Tingkatkan lagi.
Terimakasih untuk cerita, saya jg dapat banyak ilmu.
"Semua orang yang hadir dalam hidup kita adalah guru"
you're welcome Arif, terimakasih juga sudah menginspirasi.
BalasHapus