World Conference on Creative Economy 2018
World Conference on Creative Economy 2018
“Inclusive
Creativity”
I’m back guys. So this is another
journey of my life. Yap, tepat tanggal 6 sampai 8 November kemarin saya mengikuti acara
World Conference on Creative Economy yang diselenggarakan oleh Badan Ekonomi
Kreatif berlokasi di
Nusa Dua Convention Center Bali. Acara ini merupakan konferensi pertama kali
dengan mengusung tema “Inclusively
Creative” yang diikuti oleh 1000 peserta dari dalam dan luar negeri. Dengan pemateri yang gak kalah keren
yaitu Ibu Menteri Keuangan Sri Mulyani, Kang Emil, Menteri Kominfo, Ibu Retno
Marsudi, Bapak Triawan Munaf, Founder Tokopedia, Grab, Program Director Djarum
Foundation, juga pemateri dari luar negeri yang sangat menginspirasi, dan masih banyak lagi.
Selanjutnya, acara terbagi menjadi 3 sesi yaitu friends of creative economy, creative session dan
plenarry session. Di hari pertama gue memilih tema UNDP: Fostering Social
Entrepreneurship and Startup Ecosystem throught Youth Entrepreneurship and
Social Innovation. Nah, Youth
Colab sendiri merupakan komunitas yang bertujuan memberdayakan anak-anak muda
di Asia-Pasifik untuk memecahkan masalah tantangan yang paling menekan wilayah.
Adapun pemateri berdiskusi mengenai 16 subsektor yang dapat menyumbang PDB di
Indonesia yaitu Arsitektur, desain produk, fashion, desain interior, desain
komunikasi visual, seni pertunjukkan, film animasi, fotografi, art, kuliner,
musik, penerbitan, periklanan, seni rupa, televise dan radio. Sebanyak 6%
industry craft menyumbang PDB Indonesia. Bekraf memiliki program ICCON:
inovatif, creative melalui kolaboratif nusantara, bekraf telah membantu musisi
dari segi hak cipta. Kemudian dari Kak Singgih Tokopedia, beruntungnya kita
hidup di jaman yang serba muda didukung oleh teknologi, maka kita harus
memiliki pola berpikir yang berbeda, “do hardwork, spent your lot of
energy”. Kak Adi dari wecare.id, platform yang menghubungkan antara dokter dengan
pasien, mulai dari jasa transportasi, menyediakaan pelayanan kesehatan, donor
darah, dan asuransi. Meskipun Kak Adi bukan dari background bidang kesehatan,
namun dirinya tergerak karena kesadaran ingin membantu orang lain. So, talking
about startup is talking about help people.
Di hari kedua, saya
mengikuti opening world conference on creative economy. Antusiasme peserta
terlihat saat opening, dengan menyanyikan lagu “We Will Rock You” diiringi oleh
Dewa Budjana dan Gerald Situmorang. It’s so awesome, petjaaah.
Pemateri pertama, Pak Rudiantara selaku menteri kominfo menyampaikan di tahun
2019 akan ada pelatihan digital talent scholarship selama 2 bulan yang
bekerjasama dengan beberapa universitas negeri di Indonesia. Selanjutnya, Kang
Emil selaku gubernur Jawa Barat yang dulunya Walikota Bandung, beliau
mengajarkan bagaimana membuat warganya kreatif dan bahagia melalui pembangunan
manusia dan infrastruktur. Terbukti banyak warga bandung yang memiliki usaha,
angka kriminalitas menurun, angka stress menurun. Dan juga adanya kolaborasi
antar milennial. Kang Emil juga ingin mengenalkan Jawa Barat sebagai destinasi
wisata caranya dengan Selfie Economy, how? Dengan memanfaatkan sosial media,
banyaknya anak muda yang sering selfie di tempat wisata tersebut kemudian
upload, maka makin banyak juga yang tertarik untuk berkunjung ke Jawa Barat
cuy. Proud of you, Pak. Next, Kak Felicia sebagai program director of Djarum
Foundation. Menurutnya, creative education
of the future is break down barrier between the classroom and the real world;
Ensures sustainability of education improvement; and transform lives,
communities, and nations. Selanjutnya Ibu Menteri Keuangan kita, Ibu Sri
Mulyani, menurutnya digitalisasi berkontribusi nyata terhadap pertumbuhan
ekonomi dan pekerja di Indonesia, ekonomi digital menawarkan efisiensi,
inovasi, dan inklusi. Pada tahun 2020 sebanyak 640 juta berkontribusi terhadap
PDB. Last but least, Bapak Wisnutama, creative director “Energy
of Asia” Asian Games 2018.
Baginya Indonesia sangat beruntung menjadi tuan rumah, Indonesia dapat dikenal
oleh dunia, diliput oleh media luar negeri, sehingga beliau ingin
memberikan yang terbaik untuk Indonesia, suasana haru dari tim, panitia, dan
semua yang terlibat. Again, proud of you Pak.
Malam harinya saya mengikuti gala dinner di hotel Sofitel Nusa Dua Beach, mungkin saya gak bakal nyangka bisa masuk hotel se elit itu. Lagi lagi Allah baik banget sama saya. Saya dipertemukan oleh teman-teman dari Jakarta, Bandung, Kalimantan, Bali, Jogjakarta. Mulai dari penulis, pengusaha, penerbit buku, mahasiswa semester akhir seperti saya. Saya mah gak ada apa-apanya. Di hari ketiga saya mengikuti tema Frontier of Sustainable design and Circular Economy seminar, di negara Denmark sudah menerapkan sistem penjualan yang memperhatikan dampak lingkungan, dimana pemerintahnya memberikan kebijakan penggunaan plastik satu kali pakai, konsumen harus lebih sadar, mengubah kebiasaan konsumen, penggunaan barang-barang yang dapat dipakai kembali. Contohnya, Gudrun gudrun (sepatu dari jaring ikan), Horn (industri kayu), Carpet Worldwide. Oke next, Go International with The Startup Channel memfasilitasi entrepreneur yang ingin produknya dapat diekspor dan dikenal oleh masyarakat luar negeri melalui channel tv. Fasilitasnya meliputi, video profile, desain produk, pendaftaran hak cipta.
Over all,
terimakasih kepada Badan Ekonomi Kreatif yang telah menyelenggarakan acara ini,
terimakasih kepada Mbak Dwi yang baik hati, banyak sekali pengalaman,
kesempatan, pelajaran yang saya dapatkan. Saya siap untuk perjalanan
berikutnya, kemana yaaa.










Komentar
Posting Komentar